گیاهی ترین AnzanDigital فروشگاه
Beranda / Umum / Boarding School : Solusi Pendidikan untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan
DSCF3488

Boarding School : Solusi Pendidikan untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan

Pengatar
Saat ini tidak ada sekolah dari berbagai lapisan dan tingkat kependidikan yang secara khusus memiliki kemampuan menghasilkan para peserta didiknya untuk menjadi pemimpin. Belum ada format pendidikan untuk mempersiapkan pemimpin, apalagi dengan harapan untuk dapat melahirkan pemimpin masa depan. Pemimpin bangsa memang tidak bisa disiapkan secara sengaja melalui institusi pendidikan. Namun, tentunya dalam proses pendidikan semua peserta didik akan banyak belajar dan mendapatkan “pelajaran” yang langsung atau tidak langsung akan berpengaruh terhadap kualitas dan gaya kepemimpinannya.
Mengingat pendidikan berbeda dengan pengajaran, pendidikan mempunyai arti yang lebih luas lagi. Pendidikan dapat berlangsung di masyarakat, di keluarga, di tempat bekerja dan tempat lainnya sementara pengajaran dalam prosesnya harus berlangsung secara terorganisir melalui institusi (formal) persekolahan termasuk di perguruan tinggi dengan menumbuhkan nilai-nilai positif yang bermanfaat di kemudian hari. Siswa perlu diajarkan dan dikenalkan secara dini dalam sistem pendidikan (nasional) agar pada saat dibutuhkan mereka telah memiliki kapasitas dan akseptabilitas yang memadai untuk memimpin. Pendidikan menjadi sesuatu yang sangat penting dan telah menjadi suatu kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi dalam upaya memberdayakan masyarakat agar dari masyarakat yang sudah terbedayakan ini akan lahir pemimpin-pemimpin bangsa yang efektif, baik pemimpin politik, bisnis, agama, maupun sosial.
Di Indonesia munculnya sekolah-sekolah Berasrama (Boarding School) sejak pertengahan tahun 1990. Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi pendidikan Indonesia yang selama ini berlangsung dipandang belum memenuhi harapan yang ideal. Boarding School yang pola pendidikannya lebih komprehensif-holistik lebih memungkinkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang ideal untuk melahirkan orang-orang yang akan dapat membawa gerbong dan motor pergerakan kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan agama.
Boarding School: Pendidikan Alternatif untuk Melahirkan Pemimpin
Ada dua fenomena menarik  dalam dunia pendidikan di Indonesia yakni munculnya sekolah-sekolah terpadu (mulai tingkat dasar hingga menengah); dan penyelenggaraan sekolah bermutu yang sering disebut dengan boarding school. Nama lain dari istilah boarding school adalah sekolah berasrama. Para murid mengikuti pendidikan reguler dari pagi hingga siang di sekolah kemudian dilanjutkan dengan pendidikan agama atau pendidikan nilai-nilai khusus di malam hari. Selama 24 jam anak didik berada di bawah pendidikan dan pengawasan para guru pembimbing.

Di lingkungan sekolah ini mereka dipacu untuk menguasai ilmu dan teknologi secara intensif sedangkan selama di lingkungan asrama mereka ditempa untuk menerapkan ajaran agama atau nilai-nilai khusus serta  mengekspresikan rasa seni dan ketrampilan hidup di hari libur. Hari-hari mereka adalah hari-hari berinteraksi dengan teman sebaya dan para guru. Rutinitas kegiatan   tersebut berlangsung dari pagi hingga malam sampai bertemu pagi lagi. Mereka menghadapi makhluk hidup yang sama, orang yang sama, lingkungan yang sama, dinamika dan romantika yang seperti itu pula.

Sistem pendidikan seperti itu secara tradisional  jejaknya dapat kita selami dalam dinamika kehidupan pesantren, pendidikan gereja, bahkan di bangsal-bangsal tentara. Pendidikan berasrama telah banyak melahirkan tokoh besar dan mengukir sejarah kehidupan umat manusia mulai dari Filosof Plato hingga cendekiawan Nurcholish Madjid. Yang perlu menjadi catatan adalah bahwa mereka memang orang-orang yang bercikal bakal menjadi the great man and indigenous people. Apakah boarding  school memang bukan untuk pendidikan orang biasa? Atau sekolah ini khusus melahirkan calon-calon orang besar?

Kehadiran boarding school adalah suatu keniscayaan zaman kini. Keberadaannya adalah suatu konsekuennsi logis dari perubahan lingkungan sosial dan keadaan ekonomi serta cara pandang religiusitas masyarakat. Pertama, lingkungan sosial kita kini telah banyak berubah terutama di kota-kota besar. Sebagian besar penduduk tidak lagi tinggal dalam suasana masyarakat yang homogen, kebiasaan lama bertempat tinggal dengan keluarga besar satu klan atau marga telah lama bergeser kearah masyarakat yang heterogen, majemuk, dan plural. Hal ini berimbas pada pola perilaku masyarakat yang berbeda karena berada dalam pengaruh nilai-nilai yang berbeda pula. Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat yang terdidik dengan baik menganggap bahwa lingkungan sosial seperti itu sudah tidak lagi kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan intelektual dan moralitas anak.

Kedua, keadaan ekonomi masyarakat yang semakin membaik mendorong pemenuhan kebutuhan di atas kebutuhan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Bagi kalangan menengah-atas yang baru muncul akibat tingkat pendidikan mereka yang cukup tinggi sehingga mendapatkan posisi-posisi yang baik dalam lapangan pekerjaan berimplikasi pada tingginya penghasilan mereka. Hal ini mendorong niat dan tekad untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak melebihi pendidikan yang telah diterima orang tuanya.

Ketiga, cara pandang religiusitas. Masyarakat telah, sedang, dan akan terus berubah. Kecenderungan terbaru masyarakat perkotaan sedang bergerak ke arah yang semakin religius. Indikatornya adalah semakin diminati dan semaraknya kajian dan berbagai kegiatan keagamaan. Modernitas membawa implikasi negatif dengan adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan ruhani dan jasmani. Untuk itu masyarakat tidak ingin hal yang sama akan menimpa anak-anak mereka. Intinya, ada keinginan untuk melahirkan generasi yang lebih agamis atau memiliki nilai-nilai hidup yang baik mendorong orang tua mencarikan sistem pendidikan alternatif.

Dari ketiga faktor di atas, sistem pendidikan boarding school seolah menemukan pasarnya. Dari segi sosial, sistem boarding school mengisolasi anak didik dari lingkungan sosial yang heterogen yang cenderung buruk. Di lingkungan sekolah dan asrama dikontruksi suatu lingkungan sosial yang relatif homogen yakni teman sebaya dan para guru pembimbing. Homogen dalam tujuan yakni menimba ilmu untuk menggapai harapan hidup yang lebih berkualitas.

Dari segi ekonomi, boarding school memberikan layanan yang paripurna sehingga menuntut biaya yang cukup tinggi. Oleh karena itu, anak didik akan benar-benar terlayani dengan baik melalui berbagai layanan pendidikan dan fasilitas yang baik. Terakhir dari segi semangat religiusitas, boarding school menjanjikan pendidikan yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani, intelektual dan spiritual. Diharapkan akan lahir peserta didik yang tangguh secara keduniaan dengan ilmu dan teknologi, serta siap secara iman dan amal soleh.
Kondisi di atas memungkin siswa boarding school berkembang menjadi pribadi yang utuh (insan kamil) sebagai prasyarat untuk menjadi pemimpin. Pemimpin harus memiliki sifat-sifat yang baik seperti: creativity, morality, courage, knowledge, dan commitment. Calon pemimpin minimal harus memiliki kelima sifat-sifat positif tersebut, mengingat pemimpin bisa menjadi simbol moral dan pemersatu bagi komunitasnya, pemimpin harus bisa menjadi agent of development menuju kesejahteraan, kemakmuran. Seorang pemimpin harus mampu membawa komunitasnya melangkah jauh kedepan bukan hanya sekedar menjadi one step ahead tapi lebih leading to the farthest.
Faktor Guru
Guru secara etimologis berasal dari bahasa Sanskerta, gur-u’, yang berarti mulia, bermutu, memiliki kehebatan, dan orang yang sangat dihormati. Dalam khazanah Jawa Kuno, dikenal sejumlah istilah yang menempel pada kata ’guru’: guru desa (kamitua desa yang mumpuni dalam dunia spiritual), guru hyan (guru rohani), guru loka (pejabat agama di istana), dan gurupitara (mendiang nenek moyang yang patut dimuliakan karena kewaskitaannya).
Oleh karena itu, guru mesti memiliki kualifikasi yang melampaui sekadar penguasaan pelajaran (kognisi), tetapi juga memenuhi prasyarat jika seseorang ingin jadi pemimpin yang baik. Ia harus mampu mengajarkan bagaimana jadi manusia yang baik, mampu memberi teladan bahwa, misalnya, korupsi itu sama saja dengan mencuri lewat contoh langsung dalam laku keseharian hidupnya yang sudah sempit dan serba terbatas.
Tak ada yang lebih pas untuk merumuskan peran macam itu selain istilah ’guru’, bukan ’teacher’ atau ’lecture’. Itu sebabnya, ’guru’ kerap dipanjangkan sebagai “digugu dan ditiru”. Jadi, tidak mengherankan jika peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” hanya ada di negeri atau di tempat di mana ’guru’ tak hanya dimengerti semata sebagai ’teacher’. Makanya, guru (pernah) diposisikan sebagai “manusia suci”, semacam resi, yang selain pintar, tetapi punya prilakuyang tulus dan ikhlas. Dari sini kita jadi mengerti sebab kenapa kita seperti kurang serius memikirkan kesejahteraan para guru, karena memang (pernah) tertanam kesadaran bahwa seorang guru itu hidup sederhana dan tulus Di sini muncul dilema. Kita sepakat, sudah sepantasnya guru punya penghidupan dan penghasilan gaji yang baik. Namun, jika guru sudah punya kehidupan yang layak, taruhlah laiknya pegawai bank, kita khawatir banyak orang ingin jadi guru karena semata tergiur penghasilannya yang memadai, bukan karena panggilan hati menjadi pendidik. Sehingga akan muncul kekhwatiran, guru dimengerti hanya sebagai profesi, yang tak ada bedanya dengan profesi sekretaris atau arsitek, misalnya.
Dalam sejarah di Indonesia, para pendiri negeri ini adalah seorang guru. Soekarno, semasa ditahan di Bengkulu, mengajari anak-anak di sana sejumlah mata pelajaran; mulai dari berhitung, bahasa Belanda, hingga sejarah. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir secara intensif dan teratur jadi guru anak-anak di lingkungan rumah tahanan mereka. Keduanya tak hanya memberi pelajaran formal, tetapi juga nonformal, seperti pendidikan politik diam-diam, di antaranya dengan mengecat perahu dengan warna merah-putih dan diajari lagu-lagu perjuangan.
Dari kelompok kiri, Semaoen, Alimin, hingga Tan Malaka juga punya pengalaman sebagai guru. Tan Malaka bahkan pernah menjadi kepala sekolah di sebuah kawasan perkebunan di Sumatera Timur dan menjadi guru hampir di semua tempat pelariannya di luar negeri. Dari militer, Soedirman dan Nasution juga punya pengalaman sama. Jenderal Soedirman selama lebih kurang 5 tahun menjadi kepala sekolah di sebuah SD Muhammadiyah di Cilacap, sebelum bergabung dengan Peta. Nasution pun menjadi guru di Bengkulu (1938) dan di Palembang (1939-1950), sebelum jadi tentara KNIL.
Kondisi di atas jelas mengindiklasikan bahwa untuk dapat melahirkan pemimpin harus oleh guru-guru yang juga pemimpin. Bukan guru-guru yang berhenti sebatas mentransformasi ilmu pengetahuan tanpa diperkaya dengan melakukan internalisasi nilai-nilai luhur kehidupan. Konsep sekolah berasrama perlu pendekatan menyeluruh, terutama dalam memahami siswa. Sekolah berasrama tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas akademik dan fasilitas menginap memadai bagi siswa, tetapi juga menyediakan guru yang menggantikan peran orangtua dalam pembentukan watak dan karakter.
Kedekatan antara siswa dan guru dalam sekolah berasrama yang tercipta oleh intensitas pertemuan yang memadai akan mempermudah proses transfer ilmu dan internalisasi nilai-nilai dari pendidik ke peserta didik. Kedekatan akan mengubah posisi guru di mata para murid. Dari sosok ditakuti atau disegani ke sosok yang ingin diteladani. Dr. Georgi Lozanov (1897) menyatakan bahwa suatu tindak tanduk yang diperlihatkan oleh gurunya kepada para siswa dalam proses belajarnya, merupakan tindakan yang paling berpengaruh, sangat ampuh serta efektif dalam pembentukan kepribadian mereka.
Keteladanan secara personality dapat membangun kepercayaan diri untuk dapat berkomunikasi secara internal personality dan akan tercipta tanpa si anak merasa asing dengan kemampuan yang mereka miliki dalam menyampaikan pesan atau ide-ide pemikirannya kepada orang lain. Apakah itu dalam bentuk verbal maupun nonverbal, seperti menentukan sikap dan tingkah laku keseharian mereka. Keteladanan, ketulusan, kongkruensi, dan kesiapsiagaan guru mereka 1×24 jam akan memberdayakan dan mengilhami siswa untuk membebaskan potensi mereka sebagai pelajar.
Hal di atas akan mempercepat pertumbuhan kecerdasan emosionalnya. Jika metode pembelajarannya diberdayakan secara maksimal, maka kesuksesan para pelajar akan lebih mudah untuk direalisasikan. Pencapaian itu bisa dilakukan kalau senantiasa terjadi interaksi yang merangsang pertumbuhan sikap mental. Namun, untuk itu dibutuhkan seorang guru yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik digabungkan dengan rancangan pengajaran yang efektif. Harmonisasi keduanya akan memberikan pengalaman belajar yang dinamis bagi siswa.
Guru-guru sekolah berasrama harus banyak “diproduksi” oleh universitas-universitas yang selama ini melahirkan banyak guru-guru mata pelajaran. Guru sekolah berasrama adalah guru yang mengemban amanah lebih jika dibandingkan dengan guru sekolah konvensional. Dia tidak hanya pintar mengajar, tapi juga pintar berteman, pintar memberi pengayoman, pintar bercerita, mempunyai energi psikis yang banyak, selalu berkembang dan terus berkembang. Karena yang dia hadapi adalah siswa atau peserta didik yang terus berkembang, terus belajar, dan terus berubah. Bagaimana kita melahirkan peserta didik yang hebat, visioner, responsif, kalau gurunya adalah orang-orang yang tidak cinta ilmu, tidak terus belajar, dan tidak terus berkembang.
Tentang IIEC
Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang harus dilakukan oleh semua orang tua agar putra-putrinya menjadi anak yang berilmu pengetahuan dan berwawasan yang luas, kepribadian yang baik dan menarik, memiliki life skill yang tinggi yang dibutuhkan untuk dapat survive dan kompetitif dalam kehidupan global, serta memiliki pengetahuan keislaman yang cukup sehingga dapat menjadi benteng yang kokoh untuk mengarungi kehidupan yang panjang, terjal dan banyak tantangan.
IIEC hadir ingin menjawab tantangan tersebut, dengan berbagi tanggung jawab dengan orangtua. Yakni dengan menyediakan sistem pendidikan yang terpadu menyatukan pendidikan rohani dan jasmani, menyatukan pendidikan duniawi dan ukhrawi.
Orang tua membutuhkan lembaga pendidikan yang baik untuk mengaktifkan potensi-potensi yang ada pada diri putra-putri mereka. Untuk dapat mengelola potensi besar yang ada pada anak-anak dibutuhkan waktu yang panjang. Mereka juga harus dijaga dari kemungkinan terkontaminasi oleh budaya-budaya metropolitan yang kontrapoduktif. Sehingga boarding schooladalah pilihan yang tepat untuk terlaksananya pendidikan yang ideal, integratif, dan kaffah. Dalam Boarding School sangat mungkin dilakukan transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan dan keagamaan secara lebih intensif dan holistik (holistic learning).
Menjawab kebutuhan orangtua dalam pendidikan sistem boarding school, IIEC menghadirkan beberapa sekolah. Antara lain adalah International Islamic High School (IIHS) – Boarding Intermoda dan International Islamic Secondary School (IISS) – Boarding Intermoda yang menyelenggarakan pendidikan boarding dengan format yang sangat lengkap (sekolah dan asrama serta fasilitas lainnya). Berada di tengah kota yang terkoneksi dan terintegrasi dalam sebuah sistem yang terencana, teroganisasi, dan terkontrol secara baik serta digerakkan oleh SDM yang berkualitas secara intelektual, maupun emosional – spiritualnya.
Adapun visi IIEC adalah membangun pendidikan internasional berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasul SAW untuk menegakkan eksistensi manusia sebagai Khalifatullah Fi’l-ardh. Sedangkan misinya adalah membangun manusia ber-akhlaq-ul karimah, siddiq, amanah, fathanah, tabligh dan mampu mengemban Islam sebagai agama pembawa rahmat bagi alam semesta.
Sedangkan Guru dan Tenaga Administrasi yang disiapkan IIEC adalah orang-orang yang memiliki karakter keislaman yang kuat, lulus S1, S2, dan S3 dari perguruan tinggi ternama dalam dan luar negeri.
Program pendidikan di IIEC meliputi:
1. Islamic Studies Program
Islamic studies diarahkan untuk mengembangkan wawasan keagamaan yang luas, terbuka dan dapat mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari serta memberi warna dalam semua aspek kehidupan yang sehingga terlahir pribadi yang shaleh pada tingkat spiritual.
2. Academic Program
Program akademik diarahkan untuk mengembangkan intelektual (intellectual development) siswa sehingga terlahir pribadi yang rasional, obyektif dan kritis. Program akademik menggunakan kurikulum nasional, kurikulum internasional dan kurikulum berciri khas International Islamic Education Council (IIEC).
3. Overseas Program
Diarahakan untuk mengembangkan wawasan internasional dan global, sehingga siswa memiliki perspektif dan mindset global tentang bahasa, budaya, gaya hidup, ilmu dan teknologi yang sama dibutuhkan bagi semua siswa untuk kehidupan ke depan. Terutama dalam melihat tantangan, peluang dan modal apa yang harus dimiliki siswa agar dapat survive dan kompetitif dengan warga dunia lainnya.
4. Interpersonal Skills Program
Interpersonal Skills Program diarahkan untuk mengembangkan kemampuan personal (personal development) baik yang soft skill maupun yang hard skill. Interpersonal Skills Program sangat dibutuhkan untuk kemandirian siswa, pembangunan karakter dan ketrampilan hidup sesuai dengan tuntutan global.

Tentang admin

Cek Juga

lock

Which Company Would You Choose?

Don’t act so surprised, Your Highness. You weren’t on any mercy mission this time. Several …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *